♡ Ketika Manusia Salah Memahami Jawaban Allah Atas Doanya… ♡

image

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh…
Bismillahirrahmanirrahim…

Tiara memegangi ujung jilbabnya yang tertiup angin. Wanita berjilbab dan bergamis lebar itu duduk tenang, sambil terus membaca majalah wanita yang sengaja dibawanya. Meski berusaha tenang, tapi hatinya terus berdegup kencang. Kalau saja ia tak terus beristighfar, mungkin matanya sudah basah memerah sesunggukan menangis kencang.

Hari ini adalah final, akhir sekaligus awal dari proses panjang penyidikan hingga persidangan yang telah berbulan-bulan dilaluinya, bersama Yusuf-sang suami. Vonis akan diputuskan hari ini.

Pikiran Tiara mulai memflashback berbagai hal yang telah terjadi beberapa bulan terakhir.


“Hati-hati ya Ayah, Bunda selalu mendoakan ayah, tapi tetap saja: Ayah juga harus terus jaga diri. Yang secara syar’i dilarang jangan dicari dalih dan pembenaran untuk dilakukan. Bunda sayang Ayah.”, teringat pesan singkat yang dikirimnya pada suaminya, sepuluh bulan yang lalu. Suaminya tengah mencoba mendekati seorang pengusaha, yang dikenalkan oleh teman sesama aktivis kampus dulu. Pengusaha itu memang sedang mencari kontraktor untuk membangun pasar modern di pinggiran ibukota.

Dan begitulah, Yusuf yakin bahwa proyek ini berhak ia menangkan. Maka ia rela melalui berbagai negosiasi, mengikuti gaya negosiasi sang pengusaha: makan malam, dilanjutkan ngopi, kadang sambil main bilyar ditemani lady escort dengan baju seksi dan parfum menyengat.

“Tenang saja Bunda, percaya deh sama Ayah. Kamu kan tahu sendiri: Ayah ini rajin sholat, ngaji gak pernah lewat, tahu mana yang halal dan yang haram. Di kafe itu aku cuma pesan yang halal aja: kopi, yang lain sih pesannya wine dan sejenisnya. Ayah bisa jaga diri. Percaya sama Ayah. Kamu juga jangan berhenti doa-in Ayah,” sanggah sang suami waktu itu menjawab kekhawatiran Tiara.

“Tapi masak Ayah gak bisa ngarahin supaya pertemuan bisnisnya dipindah ke tempat lain, restoran sunda misalnya. Ya diatur supaya ga perlu semaleman, sampe pulang menjelang subuh. Bunda selalu doa-in Ayah, tapi Ayah juga berusaha dong menghindari apa-apa yang jelas dilarang. Tempat main bilyar ditemeni wanita terbuka auratnya gitu, pasti sedia alkohol, judulnya berarti tempat maksiat. Kan ada perintahnya: jauhi tempat maksiat. Jauhi zina. Ayah sampe disuruh duduk berdua sama sekretarisnya pak pengusaha itu, apa ga mendekati zina?”, Tiara mencoba berargumen lembut, namun tegas.

Hari-hati dilalui Tiara dengan tak lepas bersujud di sepertiga malam, dan berdoa agar kekhawatirannya tak terbukti, agar Allah tak memberinya cobaan di luar kemampuannya, agar keluarganya terhindar dari keburukan dan fitnah.

Dan proses hingga Yusuf mendapatkan proyek itu memang alot, banyak kendala. Mulai dari sang pengusaha yang mobilnya menabrak motor orang saat menuju kantor saat hari penandatangan MoU. Akibatnya penandatangannya mundur tiga hari. Lalu, saat hari itu datang, giliran atasan Yusuf yang seharusnya ikut menandatangani, tiba-tiba mimisan dan panas tinggi, terkena demam berdarah. Belum lagi orang tua sang pengusaha yang tiba-tiba tak setuju dengan teks MoU di hari penandatanganan. Perusahaan tersebut memang milik keluarga, yang tentu saja orang tuanya menjadi pemilik saham terbesar, sehingga pendapatnya sangat diperhitungkan.

Lalu di masa penundaan tersebut datanglah tawaran proyek lain, dari pengusaha muslim yang justru terkenal lebih menjaga diri. Namun atasan Yusuf di perusahan konstruksi mengabaikannya, “Ini sih receh. Masak kita buang ikan kakap demi ikan lele?”, dalihnya.

Proyek pasar modern itu akhirnya ditandatangani, Yusuf menjadi pemimpin proyeknya. Maka hari-hari di mana sang pengusaha mengajak Yusuf bermain bilyar, atau sekedar nonton bareng final piala eropa mulai rutin, minimal dua pekan sekali. Dan sering pula Yusuf harus membiarkan dirinya makan malam atau makan siang berdua dengan mbak manajer keuangan pak pengusaha itu, demi membicarakan beberapa hal. Dengan alasan: makan malam berdua mencairkan suasana, sehingga sang manajer lebih mudah dibujuk mencairkan dana pembangunan.

“Kamu jangan kaget ya kalau nanti ada yang lapor aku makan siang berdua sama perempuan lain. Info aja: dia manajer keuangannya pak pengusaha. Orangnya memang ramah banget, kadang suka pengen nyuapin segala, tapi aku tolak kok. Tenang saja, aku bisa jaga diri,” papar Yusuf waktu itu.

“Hati-hati ya Ayah sayang. Bagaimanapun, itu tempat maksiat. Kita ga tahu cobaan apa yang Allah berikan kepada makhluk-Nya ketika mencari pembenaran atas tindakannya merambah wilayah abu-abu”, itulah nasehat lain Tiara beberapa waktu kemudian. Tiara jadi was-was setelah menonton berita artis yang ikut ditangkap polisi dan BNN karena berada di kafe yang kebetulan mereka geledah. Dan naasnya, ketika digeledah, di kantong sang artis ditemukan narkoba! Sang artis mengelak, hingga mengaku tak tahu-menahu dari mana asalnya narkoba itu. Ia bahkan berani bersumpah: pasti ada seseorang yang sengaja memasukkan narkoba di kantongnya. Ia merasa dijebak! Namun siapa yang percaya? Polisi bekerja berdasarkan fakta, bukan asumsi. Dan sang artis pun divonis 4 tahun penjara!

Dan, drama itu pun terjadi. Saat tengah menemani pak pengusaha bermain bilyar, masih ditemani lady escort, tiba-tiba kafe itu digerebek polisi!

Drama itu berlangsung lambat, dimulai ketika Yusuf dan pak pengusaha digeledah polisi, digiring ke kantor polisi, menjalani pemeriksaan urine, yang entah bagaimana caranya urin mereka berdua positif mengandung metabolit narkoba. Dan mulailah Yusuf merasakan bui. Mulailah pula ketika pak pengusaha dibongkar aibnya oleh tabloid, Yusuf turut terbawa. Tak hanya fakta, tabloid juga membumbui dengan kisah dugaan selingkuhnya dengan mbak cantik manajer keuangan.


Yup, drama itu berlalu dengan lambat. Semakin lambat saat Tiara menghabiskan sepertiga malamnya dengan sujud panjang, membasahi sajadahnya dengan air mata. Di depan tetangga, orang tua, keluarga besar bahkan ketiga anak-anaknya, ia selalu tersenyum tegar, menguatkan mereka, mendukung suami, juga menguatkan hati. Hanya di atas sajadah saja dia berani menunjukkan kelemahannya sebagai manusia.

Sementara, di tahanan, Yusuf tak kalah basah sajadahnya oleh rasa takut pada Tuhan-Nya. Seorang tahanan lain yang masuk penjara karena tuduhan menggelapkan uang yayasan, menemaninya sholat malam.

Lepas subuh, Yusuf menggumam pada teman sholat malamnya itu, “Allah sepertinya menunda mengabulkan doa saya dan istri saya, soal diselamatkan dari fitnah dunia.”

Temannya tersenyum, lalu berkisah:

Dahulu kala, ada sebuah pesantren di sebuah lembah, yang tengah siaga satu sebab banjir bah akan datang. Semua mengungsi, kecuali seorang ustadz. Dia yakin, Allah akan menolongnya, dan menjawab doanya. Ia berdoa agar selamat dari air bah, khusyuk sekali di lantai dua, sementara air bah sudah mulai masuk ke dalam lantai satu pondoknya.

Tengah khusyuk berdoa, datanglah perahu tim penyelamat, mengajaknya mengungsi. Pak ustadz ini menolak, “Aku menunggu pertolongan Allah,” jawabnya lalu melanjutkan sholat, ngaji, dan berdoa khusyuk.

Air bah makin naik, hingga ke lantai dua. Tim penyelamat datang lagi dengan perahu karet, mengajaknya mengungsi. Namun pak ustadz tetap ngotot, menunggu Allah menolongnya langsung.

Begitu sampai tim penyelamat datang ketiga kalinya. Ia menolak. Air terus naik, hingga seluruh pondok tenggelam. Ustadz pun tenggelam, wafat.

Di akhirat, sang ustadz protes pada Allah: “Ya Allah, aku telah banyak menolong agamamu, Engkau berjanji pula mengabulkan doa. Lalu kenapa aku tak Engkau tolong?”

Allah menjawab,”Doamu sudah kujawab, dan kukabulkan tiga kali, melalui tim penyelamat yang hendak mengajakmu mengungsi dengan perahu karet.”


Doa memang senjata ampuh seorang mukmin. Namun, kita tak boleh lupa bahwa menghadapi kemungkaran, seorang mukmin diminta untuk melawannya dengan tangannya, lisannya, lalu hatinya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata,“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Ketika penolakan itu hanya dengan hati melalui pengingkaran, melalui doa, maka itulah selemah-lemahnya iman.

Apalagi jika peminta doa tak terlalu mampu memahami bagaimana cara Allah mengabulkan doanya. Lalu sang peminta malah menjawabnya dengan berbagai apologi dan pembenaran, disertai nafsu dan keserakahan. Lalu lalai pula menjaga dirinya dari maksiat yang jelas terpampang di depan mata. Agak aneh jika ada seorang yang berdoa meminta aman dari fitnah dunia, namun setiap hari membiarkan maksiat berlalu di depannya, tanpa usaha untuk menegurnya.

Hadaanallahu waiyyakum ajma’in
Wallahu ‘alam bishshawab…

Semoga dapat bermanfaat… ^__^
Salam santun ukhuwah fillah…

Rita Al-Khansa

Sumber:
#dr. Sari Kusumawati
#Dakwatuna.com
#Rita Al-Khansa (Editor)

Iklan

Silahkan komentar disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s