^^ Syarat-Syarat Menerjemahkan Al-Quran ^^

image

Assallamualaikum warrahmatullahi wabarraktuh …

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Q.S: Al-Israa`:36).

#Sahabat fillah…
Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu mendasari setiap kegiatan kita, baik perbuatan/tingkah laku maupun ucapan. Termasuk ketika kita berbicara tentang islam. Terutama ketika berbicara tentang dalil al-Quran. Karena al-Quran adalah firman Allah. Menerjemahkan al-Quran, termasuk menafsirkan al-Quran, berarti menyampaikan apa maksud firman Allah.

Apa yang bisa kita bayangkan, ketika ada orang yang berbicara tentang al-Quran, menerjemahkan isi al-Quran, sementara Allah menolak terjemah darinya.

● Terjemah al-Qur’an

#Sahabat fillah…
♡ Terjemah berarti,

التعبير عن الكلام بلغة أخرى

Mengungkapkan ucapan/materi teks (dari bahasa sumber) dengan bahasa lain”.

•°• Terjemah Al-Quran #berarti mengungkapkan makna Al-Quran dengan bahasa lain.

● Macam Terjemah

#Sahabat fillah…
Terjemah ada dua macam,

~Terjemah harfiyah, #yaitu menerjemahkan setiap kata (dalam bahasa sumber) dengan kata yang sepadan (dalam bahasa kedua).

Contoh, firman Allah Ta’ala,

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

(Q.S: Az-Zukhruf:3)

#Ayat ini diterjemahkan;

image

~Terjemah maknawiyah atau tafsiriyah,
Ini sangat berbeda dengan terjemah harfiyah. Terjemah tafsiriyah #berarti ada tafsir dari suatu ayat, kemudian tafsir itu diterjemahkan ke bahasa lain.

Misalnya tafsir surat Az-Zukhruf ayat 3, dalam kitab Jalalain yang berbahasa arab, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sehingga terjemah ini sama sekali terikat dengan kosakata dan urutan kata dalam ayat.

Tafsir Jalalin untuk surat Az-Zukhruf: 3 di atas,

“إنَّا جَعَلْنَاهُ” أَوْجَدْنَا الْكِتَاب “قُرْآنًا عَرَبِيًّا” بِلُغَةِ الْعَرَب “لَعَلَّكُمْ” يَا أَهْل مَكَّة “تَعْقِلُونَ” تَفْهَمُونَ مَعَانِيه

#Kemudian diterjemahkan,

Sesungguhya Kami jadikan kitab ini sebagai al-Quran yang berbahasa arab, agar kalian  wahai penduduk Mekah  memahami maknanya.

● Hukum Terjemah harfiyyah

#Sahabat fillah…
#Terjemah_harfiah untuk al-Qur’an mustahil menurut sebagian besar ulama. Karena ada banyak syarat yang tidak mungkin diwujudkan.

#Diantaranya;

~Harus ada kosakata yang sepadan antara bahasa sasaran dengan kosakata dalam bahasa sumber.

~Harus ada alat bahasa dan pelengkap kalimat yang sama antara bahasa sasaran dengan bahasa sumber.

~Harus ada kesamaan antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran dalam sistematika kalimat ketika disusun dalam bentuk kalimat, frase, atau kalimat majemuk bertingkat.

Sebagian ulama menyatakan bahwa terjemah harfiyah memungkinkan untuk sebagian ayat. Meskipun demikian, hukumnya #tetap terlarang, karena beberapa alasan.

#Diantaranya;

~Tidaklah mungkin bisa mengungkapkan makna ayat dengan sempurna,

~Tidak mungkin bisa mempengaruhi pembaca sebagaimana pengaruh Al-Quran yang berbahasa Arab yang jelas,

~Tidak ada kebutuhan yang memaksa untuk menerjemahkan Al-Quran secara harfiyah. Karena kebutuhan masyarakat adalah memahami kandungan Al-Quran, dan itu pada terjemah maknawi.

Karena itu, sekalipun memungkinkan untuk diterjemahkan harfiyah, tapi secara hukum #ini terlarang. Kecuali jika untuk tujuan belajar bahasa arab, dan itu hanyna untuk sebagian ayat.

● Hukum Terjemah Maknawiyah

#Sahabat fillah… .
#Terjemah_maknawiyah pada asalnya diperbolehkan,  karena tidak ada dalil yang melarangnya. Bahkan bisa jadi wajib ketika itu dibutuhkan. Terutama ketika itu menjadi wasilah untuk menyampaikan kandungan al-Quran kepada masyarakat yang tidak paham bahasa arab.

Hanya saja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam terjemah maknawi,

#Diantaranya;

~Terjemah maknawi al-Quran tidak boleh menggantikan Al-Quran. Sehingga orang merasa tidak membutuhkan lagi teks al-Quran. Karena itu, teks asli al-Quran harus tetap dicantumkan, kemudian disampingnya ditulis terjemah maknanya, sehingga seperti tafsir bagi ayat sebelahnya.

~Orang yang menerjemahkan harus paham tentang makna kedua bahasa. Bahasa arab dan bahasa sasaran. Dia harus paham konteks kalimat dalam masing-masing bahasa.

~Penerjemah harus orang jujur, yang menjunjung tinggi aturan syariat. Agamanya baik, komitmen dengan aturan syariat. Bukan orang liberal atau memiliki pemikiran menyimpang.

~Penerjemah harus paham istilah-istilah syar’i dalam al-Quran, sehingga dia tidak salah dalam memahami istilah yang beda maknanya dengan makna bahasanya.

(Rujukan: Ushul fi Tafsir, Ibnu Utsaimin, hlm. 31 – 32).

● Terjemah Depag & Tafsir Jalalain

#Sahabat fillah…
#Terjemah_depag hakekatnya #adalah terjemah makna al-Quran, bukan terjemah harfiyah. Dan jika kita perhatikan, secara umum, terjemah depag lebih mengacu kepada tafsir Jalalain. Sehingga lebih mendekati ringkasan terjemah tafsir Jalalain.

Karena itu, sangat mungkin jika ini direvisi. Baik karena latar belakang penyesuaian bahasa atau karena mengacu pada kitab tafsir lainnya.

Hadaanallahu waiyyakum ajma’in
Wallahu ‘alam bishshawa…

Semoga dapat bermanfaat… ^__^
Salam santun ukhuwah fillah…

Rita Al-Khansa

Sumber:
#Ustadz Ammi Nur Baits
#Rita Al-Khansa (Editor)

Iklan

Silahkan komentar disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s