~ PUJIAN !!! … Madu Ataukah Racun ?? … ~

image

Assallamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh …
BismillahirRahmanirRahim …

#Sahabat fillah
#Pujian adalah bentuk penghargaan kita kepada orang lain dengan mengapresiasi karyanya baik dalam bentuk sanjungan, pemberian hadiah, atau perlakuan spesial lainnya. Dalam banyak teori motivasi yang berkembang seperti teori yang dikemukakan Abraham Maslow bahwa memberikan pujian dapat menjadi dorongan positif kepada seorang untuk bekerja lebih keras. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemimpin perusahaan memberikan pujian kepada bawahannya untuk meningkatkan produktivitas bawahannya. Tapi benarkah #pujian akan selalu dapat memberikan dampak positif bagi seseorang? …

#Rasulullah adalah seseorang yang paling berhati-hati dalam memberikan pujian.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

وﻳﺤﻚ ﻗﻄﻌﺖ ﻋﻨﻖ ﺻﺎﺣﺒﻚ ﻳﻘﻮﻟﻪ ، ) ﻣﺮارا إن ً(، ﻛﺎن أﺣﺪﻛﻢ ﻣﺎدﺣﺎ ﻣﺤﺎﻟﺔ ﻻ ً ﻓﻠﻴﻘﻞ ، أﺣﺴِﺐ : ﻛﺬا َ وﻛﺬا إن – ﻛﺎن ﻳﺮى أﻧﻪ ﻛﺬﻟﻚ وﺣﺴﻴﺒﻪ – وﻻ ،ﷲ ﻳﺰﻛﻲ ﻋﻠﻰ أﺣﺪاً ﷲ

Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR. Bukhari)

Kehati-hatian Rasulullah dalam memberikan pujian tentunya beralasan, #pujian dapat menjadi racun bagi hati seseorang dan menjauhkannya dari keikhlasan. Ketika hati kita mulai gandrung akan pujian, maka setiap amal yang kita lakukan hanya akan menjadi amalan sia-sia, amalan riya’ yang bukannya diniatkan untuk Allah tapi untuk memperoleh pujian orang lain. Shalat yang biasanya dilakukan dalam waktu 5 menit, mendadak menjadi sangat khusyuk dan lama ketika shalat kita dilihat orang lain merupakan contoh sederhana bagaimana riya’ dapat merusak ibadah kita. Dampak negatif dari pujian secara umum ada 2 yaitu menjadikan kita riya’ dan sombong. #Riya’ akan membuat ibadah-ibadah kita tertolak dan menghilangkan keberkahannya sedangkan #kesombongan akan menjerumuskan kita ke neraka.

Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari bahaya pujian:

1. Sadar bahwa semua pujian hanyalah milik Allah

#Sahabat fillah
Di ayat pertama surat Al Fatihah sudah jelas disebutkan “Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam”. Maka segala pujian itu selayaknya hanya untuk Allah. Sehingga, ketika kita menerima pujian, maka kita bersegeralah mengingat Allah dan mengembalikan pujian itu kepada Allah.

A: “Anak ibu pintar sekali ya, bisa masuk PTN terkenal!

Jawaban orang yang sombong

B: “Habis gimana ya, kecerdasan kan memang turun dari orang tuanya

Jawaban orang yang ikhlas

C: “ Alhamdulillah, Allah-lah yang mengkaruniakan kami dengan anak yang cerdas

Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a,

اﻟﻠﱠﻬُﻢ أَﻧْﺖ َّ أَﻋْﻠَﻢ َ ﻣِﻨﱢﻰ ُ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻰ وَأَﻧَﺎ أَﻋْﻠَﻢ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻰ ُ ﻣِﻨْﻬُﻢ اﻟﻠﱠﻬُﻢﱠ ْ اﺟْﻌَﻠْﻨِﻰ ﺧَﻴْﺮًا ﻣِﻤﱠﺎ ﻳَﻈُﻨﱡﻮْن وَاﻏْﻔِﺮ َ ﻟِﻰ ْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْن َﻻ ﻣَﺎ وَﻻَ َ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْنَ ﺑِﻤَﺎ ﺗُﺆَاﺧِﺬْﻧِﻰ

” Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka “ ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876)

2. Sadar bahwa kita dipuji karena Allah masih berkenan menutupi aib, dosa, kejelekan, dan kekurangan kita

#Sahabat fillah
Jika kita sering bermuhasabah, merenungi akan lebih berat mana kebaikan atau dosa yang kita lakukan maka kita akan terhindar dari bahaya pujian. Karena sesungguhnya, orang yang memuji kita itu hanya tahu sedikit dari pribadi kita yang sesungguhnya, Allah-lah yang maha tahu aib kita, dosa-dosa kita, kejelekan, dan kekurangan kita. Jika Allah tidak maha baik untuk menutupi aib-aib kita niscaya bukanlah pujian yang akan kita dapatkan tapi malah cercaan dan dijauhi oleh orang lain. Mencoba untuk sering mengulang pertanyaan pada diri sendiri tentang siapa yang menciptakan kita? …, Siapa yang menjamin rezeki kita? … Siapa yang memberikan kemuliaan? …, Siapa sang pemilik surga? …, juga akan membantu kita menghindari sikap gila pujian.

3. Hanya berharap pada pujian Allah

#Sahabat fillah
Ketika manusia makin ingin dipuji, makin ingin dihargai, makin ingin dihormati, maka makin ia sering sakit hati. Maka agar kita tak mudah sakit hati, hanyalah berharap pada Tuhan Yang Maha Memberi.

Memuji dengan kadar yang pas dapat menjadi sebuah motivasi yang baik bagi sesorang, namun ketika diberikan secara berlebihan dan tidak sesuai dengan tempatnya pujian dapat menjadi racun bagi hati. Berhati-hati ketika menerima pujian dan segera mengingat kepada Allah adalah perbuatan bijak yang dapat kita lakukan untuk menghindari bahaya pujian.

Hadaanallahu waiyyakum ajma’in
Wallahu’alam bishshawab …

Semoga bermanfaat …^_^
Salam santun ukhuwah fillah …

  • Rita Al-Khansa *

Sumber:
#Wayan Ahmad Fauzi
#Dakwatuna.com
#Rita Al-Khansa (Editor)

Iklan

Silahkan komentar disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s