~ Selalu Ada Kebaikan Dibalik Kelembutan ~

selalu ada kebaikan dibalik kelembutan_Rita al-khansaAssallamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh …
BismillahirRahmanirRahim …

Suatu hari, sekelompok orang Yahudi lewat dihadapan Rosululloh. Mereka mengucapkan salam kepada Nabi (السَّامُ عَلَيْكُمْ) ‘Kecelakaan bagimu’. Ibunda Aisyah yang mendengar ucapan itupun paham, betapa busuk dan jelek maksud dari salam orang-orang Yahudi. Aisyah kemudian menjawab salam itu (وَعَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ) ‘Dan bagi kalian kecelakaan dan laknat’. Rasulullah yang mendengar ucapan istri tercintanya itupun bersabda :

Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kelembutan disetiap urusan

Aisyah pun berkata, ‘Tidakkah engkau mendengar ucapan mereka wahai Rasulullah  ?’Nabipun menjawab : ‘Sudah kujawab dan atasmu’. (Shahih Bukhari, Hadits no. 6024)

Abu Ubaid mengatakan, bahwa maksud dari (السَّامُ) adalah kematian atau kematian yang cepat.

Betapa busuk dan jelek batin orang kafir. Betapa besar kebencian dan kejengkelan mereka terhadap Islam. Maka tak heran jika Aisyah ra. istri Rasulullah pun gerah mendengar ucapan orang Yahudi itu. Hingga menjawab salam palsu mereka dan mendo’akan laknat Allah atas mereka.

Bila ada orang kafir yang mengucap salam kepada kaum muslimin, maka hendaknya dijawab (عَلَيْكُمْ مَا قُلْتُمْ ) ‘Dan bagi kalian apa yang kalian katakan’ atau (وَعَلَيْك ) ‘Dan atas kamu’ sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Namun Rasulullah tidak serta-merta membenarkan ucapan istrinya itu. Bahkan beliau menasihati istrinya dan melarangnya mengucapkan laknat. Beliau masih sempat mengajarkan adab mulia kepada istrinya, hingga tidak terbiasa mengucapkan ucapan yang kurang sopan dan tidak berlebihan dalam keburukan. Padahal itu adalah situasi yang lumrah dimana orang yang dihina pasti akan marah dan bisa jadi mendoakan keburukan.


Makna Ar Rifqu

Dari tinjauan bahasa, Ar Rifq sebagaimana dijelaskan Ibnu Mandhur dalam Lisanul Arabnya. Ar Rifq Berarti Sesuatu yang tipis, halus dan lembut. Atau lawan dari kata Al ‘Anfu atau Asy Syiddah. Yaitu yang keras, kejam dan bengis.

Suatu hari saat Nabi berkumpul dengan sahabatnya yang tercinta, datanglah seorang badui, kemudian sang badui kencing dalam masjid.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَامُوا إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُزْرِمُوهُ ثُمَّ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَصُبَّ عَلَيْهِ

Dari Anas bin Malik : ‘Sesungguhnya seorang badui kencing dalam masjid. Maka para sahabat berdiri hendak menghalaunya. Kemudian Rasulullah bersabda : ‘Janganlah kalian menghalaunya’. Kemudian beliau meminta seember air dan disiramkan diatas bekas kencing’. (Shahih Muslim, Hadits no. 659).

Imam An Nawawi mengatakan : ‘Hadits ini menunjukkan sifat Rifq Rasulullah kepada sang badui. Dimana beliau tidak bersikap keras dan menyakiti badui itu selama tidak menyelisihi atau menentang urusan Islam.

Juga berfaidah bahwa Nabi mencegah timbulnya dua bahaya/kerugian dengan menghilangkan bahaya yang lebih besar. Kencingnya si badui dalam masjid adalah sebuah dharar (bahaya/kerugian). Namun tercecernya kencing adalah bahaya yang lebih besar. Bila tidak mungkin menghilangkan keduanya, maka di pilih bahaya yang lebih kecil dan menghilangkan bahaya yang lebih besar.

Bukankah kencing dalam masjid adalah tindakan kurang ajar ?… Bukankah itu bisa bermakna penghinaan terhadap Dien ini ?… Namun betapa janggal dan mengganjal perkara itu, Rasulullah dengan kelembutan dan kematangan akalnya mampu mengajari jutaan umatnya tentang beberapa hukum syar’I  dari kejadian itu…


Yang Lembut dan Kasar

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir’… (QS. Al Maidah : 54)

Al Hafidz Ibnu Katsir berkata : ‘Ayat ini mengabarkan keagungan Allah, bahwa Ia akan menggantikan kaum yang berpaling dari menolong Dien-Nya dengan kaum yang lebih kuat pembelaannya dan lebih lurus jalannya.’

Diantara ciri mereka :

#Pertama, mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka.

#Kedua, bersikap lemah lembut dan tentu saja keras terhadap orang kafir.

Ibnu Katsir mensifati dengan orang yang tawadhu’ dan merendahkan diri dihadapan saudaranya dan walinya. Namun disatu saat ia berubah garang kepada lawannya.

Begitu pula Rasulullah, beliau disifati dengan “الضحوك القتال” yaitu yang banyak tersenyum dan berperang. Maksudnya beliau sangat ramah dan murah senyum pada kaum muslimin. Tapi dibalik keramahan dan kelembutannya, beliau juga berperang dan berkonfrontasi dengan musuhnya.


Yang Manis dan Pahit dirasa

Rasulullah bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Permisalan seorang mukmin dalam kecintaan, berkasih sayang dan berlemah lembut ibarat satu badan. Jika satu anggota badan mengeluh sakit, maka sekujur tubuh akan meresakan sakit dan demam.”  (HR Muslim, Hadits no. 6586).


#Sahabat fillah …
“Betapa indah bila kaum muslimin hidup dengan petunjuk Rabbnya. Menghiasi perjalanan panjangnya ke negeri akhirat sembari bernaung dibawah payung hidayah.”

Betapa indah cerita kehidupan sahabat dan kaum salaf dalam berkasih sayang, seindah dongeng pengantar tidur yang lebih dekat dengan alam khayal. Akibat gersangnya hati dan jauhnya hidup dari petunjuk Qur’ani.

Apalah susahnya bila sedikit bermuka manis dan bertutur lembut dihadapan saudara seiman. Adakah yang lebih besar dari janji pahala yang bakal Allah berikan kepada orang yang berlemah lembut pada saudaranya ?…

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ : قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Dari Abi Dzar beliau berkata : ‘Nabi SAW berkata kepadaku. Janganlah kau remehkan hal yang ma’ruf itu sedikitpun. Meski hanya bermuka manis dihadapan saudaramu.” (Shahih Muslim, Hadits no. 6690).

#Senyum adalah satu contoh kecil bentuk kelembutan dan kasih sayang seseorang. Sungguh banyak kelembutan lain yang bisa kita sajikan dan persembahkan kepada saudara seiman. Sebuah pepatah mengatakan ‘Senyum adalah jarak terdekat antar kedua manusia’.

Berkata penuh santun, sadar akan kekurangan masing-masing. Namun bukan berarti mentolerir satu kemunkaran dan kemaksiatan.

Rasulullah bersabda :

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Tolonglah saudaramu dalam keadaan dhalim maupun didhalimi“. (Shahih Bukhari, Hadits no. 2443).

Menolong saudara yang terdhalimi adalah hal yang maklum. Namun bagaimanakah menolong saudara yang berbuat dhalim ?…
Para ulama menjelaskan bahwa cara menolongnya adalah dengan mencegahnya dari berbuat kemunkaran. Maka perlu dipahami bahwa mencegah dan melarang seseorang yang akan berbuat kemunkaran merupakan satu bentuk kasih sayang meski terkadang pahit dirasa. Namun perlu diperhatikan pula adab dalam beramar ma’ruf nahi munkar.

Ibnu Rajab Al Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menyatakan bahwa dalam beramar Makruf Nahi Munkar hendaknya dipilih cara yang paling baik. ((أوقعهافى القلب / paling berkenan dihati)).

Pernah suatu ketika Khalifah Harun Ar Rasyid di tegur dengan perkataan yang sangat keras atas sebuah kesalahan. Selesai ditegur, beliau berkata pada orang yang menegurnya : ‘Sesungguhnya Musa, orang yang lebih baik darimu diutus kepada Fir’aun orang yang lebih buruk dariku. Namun Allah berfirman kepada Musa dan Harun :

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha : 44).

Segala sesuatu hendaknya ditempatkan pada tempatnya. Begitu pula kelembutan dan permusuhan hendaknya ditempatkan dan berikan sesuai porsinya.  Kecintaan dan kelembutan jangan sampai tertukar dengan sikap keras dan permusuhan. Satu hal yang terkadang kurang disadari, pernahkah kita menghitung berapa kali kita bersikap keras kepada saudara seiman. Menampakkan dan menyombongkan kebaikan didepan saudara kita. Menunjukkan dan menahbiskan diri sebagai yang paling wah… dan paling unggul dalam ketaatan kepada Allah. Sedikit angkuh dan bisa jadi menganggap rendah saudara kita. Satu sikap yang bisa jadi melempem jika berhadapan dengan para wali syetan.  Wal I’yadzu Billah.

Bukankah Allah berfirman :

Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ahzab : 19)

Disaat aman, seolah mereka adalah orang yang paling kuat dan paling dekat kepada Allah. Namun bagaimana bila kondisi genting, musuh menyerang dan ajal seakan tak henti mengintai. Masihkah kita ‘mampu’ berlaku sombong atas kebaikan yang kita miliki sembari merendahkan saudara seiman yang lain. Atau hanya diam dan melempem bagai krupuk tersiram air bila dihadapkan dengan kekuatan wali syetan… ?

Tapi satu yang tak terpungkiri, tidaklah kelembutan itu menghiasi sesuatu kecuali akan mendatangkan kebaikan… Wallahul Musta’an.
             Maraji’ :

1. Al Qur’an Al Kariim

2. Tafsir Al Qur’anul ‘Adhim: Al Hafizh Ibnu Katsir

3. Shahih Bukhari: Muhammad bin Ismail Al Bukhari, Darus Salam Riyadh, Cetakan Pertama 1417 H

4. Shahih Muslim: Muslim bin Hajjaj An Naysaburi, Darus Salam Riyadh, Cetakan Pertama 1419 H

5. Fahul Bari: Ibnu hajar Al Asqalani

6. Syarhu Shahih Muslim: Imam An Nawawi

7. Jami’ul Ulum wal Hikam: Ibnu Rajab Al Hanbali

8. Lisanul Arab: Ibnu Mandhur
Hadaanallahu waiyyakum ajma’in
Wallahu’alam bishshawab …

Semoga bermanfaat … ^_^
Salam santun ukhuwah fillah …

  • Rita Al-Khansa *

Sumber:
#Budi Yahya
#OaseImani.com
#Rita Al-Khansa (Editor)

Iklan

Silahkan komentar disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s