~ Indahnya Hidup Dalam Keimanan Dan Istiqamah Dalam Ketaatan ~

image

Assallamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh…
BismillahirRahmanirRahim…

#Sahabat fillah
Agar kehidupan tetap berada di dalam bingkai keislaman dan tetap istiqamah dalam ketaatan, tetapkanlah kesadaran untuk melakukan beberapa hal yang terangkum dalam rumus 5 M. Yaitu, Muhasabah, Muraqabah, Mu’ahadah, Muaqabah dan Mujahadah.

  1. Muhasabah (introspeksi diri)

#Sahabat fillah
Manusia adalah makhluk yang sangat memerlukan evaluasi diri dan penilaian ulang kehidupannya, baik yang bersifat individual maupun sosial. sangat perlu di perhatikan itu tak lain karena sisi spiritual dan intelektual selalu berubah-ubah. Cepat terwarnai dengan keadaan yang menyertainya. Hari ini baik, besok bisa sangat baik. Atau hari ini sangat baik, besok mungkin saja sangat tidak baik.

Disinilah perlunya kita introspeksi diri (muhasabah), agar kebaikan tetap bisa kita pertahankan. Sebab kita tak pernah tahu kapan kita akan di matikan. Hidup dan mati kita Allah lah yang mengatur, yang kita tahu adalah bahwa setiap kita pasti mati.

Seorang muslim seharusnya sangat menyadari, bahwa apapun yang di lakukannya kelak akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Dan menyadari pula bahwa setiap hembusan nafasnya adalah mutiara yang bernilai. Maka ia tidak menyia-nyiakan walau sesaat pun.

ketahuilah #Sahabat fillah, kepentingan menghisab diri ini kita dilakukan untuk mengetahui dua hal, yaitu :

pertama: Untuk mengetahui segala aib diri, apakah kebaikannya lebih banyak dari pada keburukan kita, ataukah sebaliknya.

Kedua: Untuk mengetahui hak Allah terhadap kita. Apakah kewajiban kita sebagai hamba Allah sudah di sempurnakan atau di lalaikan. Dari dua kesadaran ini akan lahir kepribadian yang istiqamah dan sikap mental yang tidak mudah melemah.

√ Terkait dengan muhasabah, Hasan al-Basyril pernah berkata:

Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia menghisab dirinya karena Allah. karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan ringan bagi mereka yang telah menghisab dirinya di dunia.”

√ Hal senada pernah di ungkapkan oleh Umar bin Khatab:

Hisablah dirimu sebelum di hisab, timbanglah diri kalian sebelum di timbang. sesungguhnya berintrospeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan dari pada hisab di kemudian hari.” (Diriwayatkan dari imam Ahmad dan at-Tarmidzi secara mauquq dari Umar bin Khatab).

  1. Muraqabah (selalu merasa di awasi Allah)

#Sahabat fillah
Orang yang sadar bahwa Allah selalu mengawasi hidupnya. maka ia akan terbentengi dari kesalahan dan dosa. Rasa Khauf (takut) selalu menyelimutinya bila ia melakukan kesalahan. Khauf (rasa takut) akan membakar syahwat yang di haramkan Allah. sehingga kemaksiatan yang dulu di sukai jadi di benci.

Kesombongan yang dulu di pertahankan berubah menjadi ketawadhuan. ia selalu waspada terhadap langkah, pikiran dan kalimat yang keluar dari dirinya. Ia menyadari betul tentang firman Allah SWT di bawah ini:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang di bisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dengan urat lehernya. yaitu ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya. satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang di ucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 16-18)

#Sahabat fillah, hamba yang selalu bermuraqabah adalah orang yang memiliki kecerdasan ruhiyah yang tinggi. Kesadaran itu di bangun berdasarkan pemikiran yang cerdas. karena ia sangat menyadari bahwa hidup akan mempunyai makna apa bila ruang tempat berpijak adalah amanah yang harus di manfaatkan sebesar-besarnya untuk dirinya dan kemudian dia pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang di percayakan kepadanya, sedang kamu mengetahui.”(QS. Al-Anfal : 27)

Ketahuilah #Sahabat fillah, islam memandang amanah sebagai suatu yang amat berharga, sekecil apapun amanah yang kita terima, wajib kita jaga dengan baik dan kita sampaikan ke alamatnya secara konsisten. Karena dengan memandang kecil sebuah amanah yang kecil, kita akan terbiasa memandang amanah itu sebagai hal yang tidak berarti. Sehingga amanah yang besar pun akan kita anggap sebagai amanah yang sepele.

  1. Mu’ahadah (selalu mengingat perjanjian dengan Allah SWT)

#Sahabat fillah
Kesadaran kita bahwa hidup bukan sekedar ada tetapi karena ada yang mengadakannya, adalah sikap dan sifat seorang muslim sejati. Allah menghidupkan kita dengan fasilitas yang di berikan-Nya bukanlah tanpa tujuan. Dan tujuan kita di ciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada-Nya.

Dan hanya Allah sajalah yang harus kita per-Tuhankan, karena ini adalah inti kehidupan, yaitu memper-Tuhankan Allah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Ini adalah perjanjian yang harus selalu kita ingat, sebagaimana di ungkapkan oleh Allah SWT:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukanlah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS. Al-A’raf: 172)

Manusia dengan segala keberhasilan dunia yang di raihnya tidaklah kemudian menjadi mulia, manakala ia merasa bahwa apapun yang di raihnya adalah hasil usahanya sendiri, tanpa ada campur tangan orang lain.

#Sahabat fillah
Sadarilah kita di sebut kaya karena ada yang miskin, kita di sebut cantik karena ada yang jelek. dan kita juga bisa di sebut baik (mulia) karena ada yang buruk. Kemudian ketahuilah tidaklah orang memuliakan kita, kecuali Allah yang menghendaki.

Maka, jangan merasa diri lebih mulia dari orang lain, karena itu adalah kebodohan. sebab hanya orang bodohlah yang merasa dirinya tidak perlu atau membutuhkan bantuan. Dan ketika rasa itu mendominasi dirinya, maka kecenderungan menyekutukan Allah nampak semakin sempurna.

Maka, kesadaran Allah sebagai Tuhan dan hanya kepada Allah segalanya di kembalikan adalah buah dari kecerdasan pikiran yang lahir dari keimanan. Ingatlah selalu perjanjian kita dengan Allah yaitu untuk selalu beribadah hanya kepada-Nya. Jangan berpaling dari syariat-Nya dan tidak mendustai kebenaran yang di turunkan-Nya (al-Qur’an).

  1. Mu’aqabah (memberi sangsi ketika lalai beribadah)

#Sahabat fillah
Memberikan sangsi (‘iqab) ketika lalai beribadah memang sesuatu yang tidak mudah. Di butuhkan kesadaran diri yang prima dan keimanan yang sempurna. hanya orang-orang yang mendapat rahmat dari Allah sajalah yang dapat melakukannya.

Seringnya kita membiarkan kelalaian akan menghadirkan sikap meremehkan kesalahan. Dan lambat laun, ketika kesalahan sudah menjadi kebiasaan, maka dorongan melaksanakan ketaatan akan semakin hilang. bahkan membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudah kesalahan-kesalahan yang lain.

Di sinilah pentingnya kita meng’iqab (memberikan sangsi) kepada diri agar jiwa terselamatkan dari dosa. sangsi yang di maksud disini adalah, apabila kita menemukan kesalahan maka tidak pantas bagi kita untuk membiarkannya.

Bentuk pemberian sangsi tentu saja harus yang mubah dan tidak boleh berlebihan, apalagi sampai membahayakan diri. seperti memukul kepala karena tidak shalat subuh. atau membakar diri karena asyiknya nonton TV hingga lupa shalat isya. Tentu saja tidak seperti itu.

Sebuah perilaku yang dapat kita jadikan contoh adalah seperti kebiasaan pada generasi sahabat atau para salaf yang meng’iqab diri secara langsung ketika mereka melakukan kekhilafan. misalnya dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Umar bin Khatab pergi kekebunnya. ketika pulang di dapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan shalat ashar. Maka beliau berkata:
Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang Shalat Ashar! kini kebunku aku jadikan shadaqah untuk orang-orang miskin.”

Subhanallah, bagaimana dengan kita, bisakah kita mencontoh Umar, sudah berapa seringkah kita melalaikan kewajiban, tetapi adakah kita pernah meng’iqab diri karena banyaknya kekhilafan itu?

  1. Mujahadah (adanya kesungguhan dalam beribadah)

#Sahabat fillah
Ibadah adalah alasan Allah menciptakan manusia. Karena untuk itulah kita hidup dan di hidupkan. Kita hidup bukanlah sekedar hidup, tetapi harus mentaati aturan Yang Maha hidup. Dia lah Allah. Bahkan ibadah adalah inti hidup. Orang yang tidak punya orientasi ibadah dalam hidup seperti orang yang melakukan perjalanan tanpa tujuan, hampa.

Bermujahadah artinya bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan dalam rangka menjemput keridhaan Allah. Hingga akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan, bukan sebuah beban yang memberatkan.

√ Sa’id Musfar Al-Qathani mengatakan:

Mujahadah bertarti mencurahkan segenap usaha dan kemampuan dalam mempergunakan potensi diri untuk taat kepada Allah dan apa-apa yang membahayakannya.”

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(QS al-Ankabut:69)

#Sahabat fillah
Bangkitnya seseorang dari kelemahan kepada semangat, dari kemaksiatan kepada taat, dari kebodohan kepada ilmu, dan dari keraguan kepada yakin; adalah ciri dari orang-orang yang bermujahadah. Selalu ingin mengoptimalkan nilai-nilai kebenaran dalam setiap gerak kehidupan.

Dengan melakukan rumus 5 M di atas, In Shaa Allah nilai kehidupan yang kita jalani akan semakin berarti. sebab dengan Muhasabah kita selalu memperbaiki segala yang salah. Dengan Muraqabah kita selalu merasakan keagungan Allah. Dengan Mu’ahadah kita tetap akan istiqamah. Dengan Mu’aqabah kita dapat mengurangi beban dari rasa bersalah dan dengan Mujahadah kehidupan kita akan selalu di permudah. In Shaa Allah.

Dan buah pelaksanaan 5 M ini adalah 5 C. Yaitu : Comitment, confident, Consistent, Consquent dan Creative.

  1. Comitment adalah keyakinan kokoh yang menggerakkan perilaku menuju arah yang di yakini (I’tikad).

  2. Consistence adalah kemampuan untuk bersikap secara taat azaz, pantang menyerah dan mampu mempertahankan prinsip kebenaran yang di yakininya betapapun harus membahayakan dirinya.

  3. Consquence adalah keberanian menerima konsekuensi dari keputusan yang di ambilnya. Baginya hidup adalah pilihan (life is choice) yang harus di pertanggung jawabkan.

  4. Confident adalah sikap percaya diri yang keluar dari kekuatan keyakinan dan sifat ini merupakan kematangan berpikir dari jiwa yang istiqamah.

  5. Creative adalah sikap yang tak pernah lelah melakukan kebaikan, selalu saja ada aktivitas yang membuat dirinya semakin maju selangkah demi selangkah namun pasti. Dan kreatifitas ini menjadikan seorang mukmin selalu menangkap sinyal kebaikan dalam setiap episode hidup yang di jalaninya.

#Sahabat fillah
Bangkitnya seseorang dari kelemahan kepada semangat, dari kemaksiatan kepada taat, dari kebodohan kepada ilmu, dan dari keraguan kepada yakin, adalah ciri dari orang-orang yang bermujahadah( bersungguhsungguh).

Selalu mengoptimalkan nilai-nilai kebenaran dalam setiap gerak kehidupan.

Hadaanallahu waiyyakum ajma’in
Wallahu’alam bishshawab …

Semoga bermanfaat …^_^
Salam santun ukhuwah fillah …

  • Rita Al-Khansa *
Iklan

Silahkan komentar disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s