~ Istiqamah, Tinggalkan Maksiat ~

image

Assallamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh…
BismillahirRahmanirRahim…

#Sahabat fillah…
Keseharian memang selalu bersama Al-qur’an, mulai dari membaca, menghafal, serta membaca terjemah atau juga tafsir. Tapi, bukan berarti kami adalah seorang shalihah dengan jaminan khusnul khatimah langsung jebret… masuk surga. Sungguh tidak ada jaminan sama sekali. Baik surga atau neraka adalah urusan dan kehendak Allah swt, kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan banyak berdoa agar ditempatkan di tempat yang terbaik.

Shalih/ah atau tidak juga bukan sekedar dilihat dari seberapa sering dia memegang mushaf lalu membacanya. Bukan juga dilihat dari berapa banyak jumlah raka’at dia shalat setiap hari, bukan juga dilihat berdasarkan tempat di mana ia tinggal selama ini. Shalih/ah adalah pribadi yang Allah berikan lengkap dengan sifat-sifat mahmudah, yaitu jujur, amanah, sopan santun, beradab, serta baktinya kepada orang tua, dan suami (bagi yang sudah menikah).

#Sahabat fillah…
Dari mana asal sifat mahmudah itu?…
Yaitu bisa jadi dari seringnya membaca Al-qur’an, ibadahnya yang rajin, istiqamahnya menjaga wudhu, shalatnya, puasanya, dan ibadah-ibadah lainnya. Hanya saja bukan tidak mungkin para ahli ibadah melakukan maksiat. Masih banyak contohnya selama ini. Misal, ia adalah pegiat dakwah tapi masih pacaran, atau mungkin tidak berstatus pacaran tapi hubungannya dengan non muhrim bisa dibilang cukup intens tanpa menggunakan hijab dan tanpa batasan waktu. Masih banyak juga penghafal Al-qur’an yang berpakaian tidak syar’i lalu pacaran, ada juga yang rajin memberi nasihat tapi tidak menjalankan apa yang senantiasa ia nasihatkan.

#Sahabat fillah… Afwan jiddan sebelumnya !!
Bukan berarti saya adalah orang baik dan suci dengan serta merta berani menasihati. Justru hal ini menjadi cambuk bagi diri sendiri khususnya untuk terus memperbaiki diri sebagai hamba Allah yang masih banyak cela. Lalu bagaimana memperbaiki cela itu?…

#Sahabat fillah…
Biasanya, seseorang ahli ibadah kalau sengaja atau tidak sengaja melakukan maksiat maka dengan segera hati kecilnya menegur diri sendiri. Maka sesungguhnya pada saat itulah Allah tengah menegur hamba-Nya dan memberi petunjuk secara langsung. Tergantung kepada pribadinya mau mengakui khilafnya atau tidak. Ada yang memandang dosanya sebesar gunung, ada yang beranggapan seperti debu dan hanya menganggap sebagai angin lalu.

Ya sudah, bagi yang khilaf kita masih bisa memperbaikinya. Bukankah Rasul pernah menyampaikan bahwa sebesar-besar dosa kita, ampunan Allah tetap terbentang dengan lebih luas. Taubatan nasuha dengan tetap istiqamah berusaha meninggalkan maksiat In Shaa Allah cukup membuka tangan-Nya untuk menerima kita kembali.

Agar bisa istiqamah dalam hal kebaikan dan mampu meninggalkan maksiat, kuncinya adalah dengan selalu bertanya pada hati nurani tentang benar atau tidaknya perbuatan-perbuatan yang akan atau selama ini telah kita lakukan. Jangan pernah terburu-buru bertindak meski kita pikir itu adalah hal baik. Takutlah jika itu semua sebagai hawa nafsu belaka. Sebagai hamba Allah yang banyak cela maka mari bersama-sama meperbaiki diri dengan meneguhkan iman di hati dan perbuatan.

Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita dari hal-hal yang akan melunturkan keimanan kita … dan Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan kepada kita untuk tetap dijalan-Nya … Aamiin Allahumma Aamiin.

Hadaanallahu waiyyakum ajma’in
Wallahu’alam bishshawab…

Semoga bermanfaat …^_^
Salam santun ukhuwah fillah …

  • Rita Al-Khansa *

Sumber:
#Vaniest Al-Lail
#Dakwatuna.com
#Rita Al-Khansa (Editor)

Iklan

Silahkan komentar disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s