•°• Sepeda Kehidupan •°•

image

Assallamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh…
BismillahirRahmanirRahim…

#Sahabat fillah
Dalam hidup, pasti setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda. Seseorang mungkin diberi rezeki yang melimpah, kesempurnaan akal, serta kecantikan paras dan akhlak. Namun ternyata, ia diberi ujian berupa kelemahan fisik yang menyebabkan ia berpulang kepada-Nya lebih cepat daripada yang lain. Ada pula yang diberi kesehatan dan kecerdasan akal, namun ia harus berjuang lebih keras untuk mencari sesuap nasi.

#Sahabat fillah
Contoh tersebut hanya secuil dari keberagaman masalah yang dihadapi manusia dalam hidup. Begitulah. Tidak ada manusia yang terlepas dari masalah.
Ada titik ketika setiap orang merasa lelah, ingin menyerah dan merasa tidak mampu menghadapinya. Lalu, sebagian orang menyerah, namun ada pula yang terus berjuang.

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS Al Insyiraah: 5-6)

#Sahabat fillah
Ketika menghadapi kesulitan, seseorang mungkin akan bertanya, “Di manakah kemudahan itu? Benarkah bersama kesulitan ada kemudahan? Kenapa aku tidak melihat kemudahan itu?
Mari kita berhenti sejenak.

Wahai orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153)

Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.
Jika diibaratkan dengan belajar menaiki sepeda, maka, kesulitan itu adalah ketika kita berkali-kali jatuh. Kita bangkit dan mengayuh, namun kita tetap jatuh. Masih tersisa rasa takut ketika sepeda itu tiba-tiba oleng dan rasa sakit yang terasa ketika kita terjatuh. Kaki kita lecet dan berdarah-darah. Sakit. Perih. Trauma. Namun, ketika kita patuh terhadap rasa takut akan jatuh lagi, percaya terhadap bisikan bahwa kita tidak akan bisa naik sepeda, serta memutuskan untuk berhenti belajar mengayuh, apakah pada akhirnya kita akan bisa menaiki sepeda?…
Tentu saja jawabannya adalah tidak.

#Sahabat fillah
Sungguh, proses belajar itu membutuhkan dua hal: #tekad belajar yang kuat dan #kesabaran.
Kesabaran ketika jatuh, kesabaran menahan rasa sakit, kesabaran menghadapi ujian dan kesabaran-kesabaran lainnya. Maka, ketika orang tersebut bersabar menahan rasa sakit dan memutuskan untuk terus mengayuh, dia akan semakin ahli dalam mengayuh, hingga akhirnya ia bisa menaiki sepeda tersebut.

Tidak terhingga rasanya ketika telah berhasil mengalahkan kesulitan dan akhirnya bisa menaiki sepeda. Senyum terkembang. Rasa takut, sakit dan luka pun terlupakan. Sepeda dikayuh dengan riang.

Apakah kesulitan tersebut sudah berhasil dilalui?…
Dan apakah kemudahan telah datang?…

Dalam ringkasan Ibnu Katsir jilid 4 karya Muhammad Nasib Ar Rifai, dikatakan bahwa: “di mana ada kesulitan maka di situlah ada kemudahan.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa A-id bin Syuraih berkata, “Aku mendengar Anas bin Malik berkata:
Nabi SAW pernah duduk-duduk dekat sebuah batu. Lalu beliau bersabda,’ Kalau ada kesulitan itu datang kemudian masuk ke dalam batu ini, kemudahan akan datang dan masuk pula ke dalam batu ini, kemudian mengeluarkan kesulitan tadi.’ Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat, ‘Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (hal.1005).’””

Jika ia menyerah dan berhenti mengayuh, tentu ia tidak akan menjumpai kemudahan itu. Namun bagi pejuang yang pantang menyerah, maka baginya kemudahan. Karena sungguh kemudahan itu ada bersama kesulitan. Namun, ada satu syarat dari kemudahan itu: tidak boleh berhenti dan terus berjuang.

#Sahabat fillah
Demikian pula yang terjadi dalam kehidupan. Masing-masing dari kita ibarat seorang pengendara, sepeda ibarat kendaraan, dan jalan lintasan sepeda ialah ibarat jalan kehidupan yang kita lalui. Tentu saja jalan itu tidak selalu lurus dan mulus. Terkadang ia terjal berliku, curam, menanjak dan berduri. Pengendara pemula bisa jadi akan sedikit oleng dan terseok-seok ketika pertama kali melalui jalan yang penuh rintangan. Namun, ketika ia sering melalui jalan penuh rintangan, lama-lama ia akan terbiasa, menjadi ahli, dan bahkan bisa bergaya ketika melaluinya.

Lalu, apa yang terjadi ketika pengendara sepeda berhenti mengayuh ketika melalui jalan terjal berliku?…
Tentu saja, sepeda akan berhenti, oleng dan terjatuh.
Akankah sepeda itu sampai kepada finish jika ia tidak dikayuh?…
Tentu rodanya tidak akan berjalan dan pengendara akan berhenti di tempat. Sementara, pengendara lain terus melaju melewati keterjalan jalan mereka sendiri. Ketika pengendara lain telah mencapai finish, ia masih di tempatnya semula. Karena, ada yang terus bergerak ketika kita memutuskan untuk berhenti mengayuh, ia adalah waktu.

#Sahabat fillah
Waktu kita terbatas, maka, jika berhenti terlalu lama kita akan tertinggal, jauh.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 1-3)

Maka, bersabarlah dan teruslah kayuh sepeda kehidupanmu, wahai umat muslim!

Hadaanallahu waiyyakum ajma’in
Wallahu’alam bishshawab …

Semoga bermanfaat …^_^
Salam santun ukhuwah fillah …

  • Rita Al-Khansa *

Referensi:
Al-Quran
Nasib Ar Rifai, Muhammad.2000. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4. Jakarta: Gem

Sumber:
#Greta Ara
#Dakwatuna.com
#Rita Al-Khansa (Editor)

Iklan

Silahkan komentar disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s