~ Ingatkanlah Dengan Ahsan ~

image

Assallamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh…
BismillahirRahmanirRahim…

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menaati kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

#Sahabat fillah
Setiap manusia berpotensi melakukan kesalahan. Lupa dan khilaf sudah menjadi sifat yang melekat dalam jiwa insan. Tidak pun kita, Rasulullah SAW, sang pembawa risalah yang ma’shum (sifat keterjagaan) pernah lupa dan melakukan kesalahan. Fakta mengenai kesalahan beliau telah banyak di singgung, baik itu dalam Al-Qur’an maupun atsar Hadits yang diriwayatkan para sahabatnya. Bukankah Rasulullah pernah menshalati, mendoakan, mengubur dan memberi salah satu bajunya untuk dijadikan kafan Raja Munafik Abdullah bin ubai bin salul hanya karena anak raja munafik tersebut merupakan salah satu sahabat loyal sang nabi?…
Bukankah beliau juga pernah shalat dengan mengenakan sandal yang najis?…
Rasulullah juga pernah lupa untuk menggenapkan shalat Dzuhur empat rakaat, sehingga Sahabatnya Dzul yadain harus menegur kesalahan itu?…
Masih banyak lagi kesalahan dan keluputan yang sejatinya adalah hal yang fatal bagi seorang Nabi.

Nabi Muhammad SAW pun mengakui bahwa dirinya pernah lupa:

Saya juga bisa lupa (sengaja dilupakan oleh Allah) seperti kalian semua, jika memang saya lupa maka ingatkanlah saya” (HR. Bukhari).

#Sahabat fillah
Jika Rasulullah saja seperti itu, maka siapalah kita?…

#Sahabat fillah
Sebagai manusia yang tak pernah luput dari berbuat salah/khilaf, kita sangat butuh pada sebuah teguran dari orang-orang yang peduli terhadap diri kita. Ini dimaksudkan agar kita bisa senantiasa berusaha menjadi lebih baik. Teguran, ingatan, dan saling menasihati sesama menjadi salah satu bentuk komunikasi yang harus dijaga dalam beramal jama’i. Seni mengingatkan dan menasihati saudara kita menjadi fokus utamanya. Jangan sampai niat baik kita untuk meluruskan kesalahannya justru membuatnya tersakiti dan membuat hubungan semakin merenggang. Maka, kita perlu melihat pribadi masing-masing saudara kita, agar pesan yang ingin kita sampaikan lebih mengena dan diterima tanpa harus membuatnya malu atau tersinggung.

#Sahabat fillah
Mengenai nasihat itu sendiri, Rasulullah SAW telah mencontohkannya dalam sebuah kisah. Pada suatu hari, ada seorang pemuda datang berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Dia berkata, “Saya telah bercumbu-cumbu dengan seorang perempuan dari pinggir kota. Saya sudah buat semuanya, kecuali bersetubuh dengannya. Sekarang saya datang ke hadapan tuan, maka hukumlah saya sebagaimana yang tuan inginkan.
Sayidina Umar memarahi pemuda itu, katanya, “Allah menutupi kesalahan kamu jikalau kamu menutupi diri kamu sendiri!

Mendengar kata-kata Sayidina Umar itu, Nabi Muhammad SAW tidak bicara apa-apa. Kemudian pemuda itu pergi. Nabi Muhammad SAW segera menyuruh orang memanggil pemuda itu supaya datang lagi. Kemudian beliau membacakan kepadanya ayat ini:

Dan dirikanlah sembahyang (shalat) itu pada pagi dan petang, dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

Kemudian, ada seorang lelaki lain yang ada di situ bertanya, “Wahai Rasul Allah, apakah ayat itu ditujukan khusus untuk dia saja, ataupun ayat itu ditujukan untuk semua orang?”

Nabi Muhammad menjawab, “Untuk semua orang.”

#Sahabat fillah
Dalam potongan sejarah di atas, Sayidina Umar al-Khattab mengkritik tingkah laku si pemuda yang telah membuka aibnya sendiri. Dengan kata lain, Umar mengatakan kepada pemuda itu bahwa dia telah melakukan suatu kesalahan, yaitu membuka aibnya, sedangkan dari segi syariat perbuatan seperti itu hukumnya tidak boleh. Itulah kritikan Umar. Dalam bahasa modern hari ini, kritikan Umar itu adalah contoh ‘kritikan membangun’ karena dengan kritikan itu sepatutnya si pemuda paham letak kesalahannya.

Sayidina Umar mengkritik perbuatan pemuda itu dengan niat yang murni, hati yang ikhlas, kata-kata yang jujur. Beliau mengemukakan hujah dari Al-Qur’an. Hujah itu adalah hujah yang betul dan hujah yang sangat kuat karena tidak ada hujah yang lebih kuat daripada Al-Qur’an. Barangkali, berdasarkan hal itulah maka Nabi Muhammad SAW diam saja ketika mendengar kata-kata Umar. Ketika pemuda itu hengkang dari tempat itu, maka dapat ditafsirkan bahwa kritikan Sayidina Umar itu tidak berkesan, walaupun Umar telah menggunakan hujah dari Al-Qur’an.

Kemudian, Nabi Muhammad menyuruh supaya pemuda itu dipanggil lagi. Kali ini Nabi Muhammad SAW membacakan kepada pemuda itu sepotong ayat dari Al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW tidak mengkritik langsung kesalahan pemuda itu. Beliau hanya memberitahu bagaimana dia dapat menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan cara-cara yang diterangkan dalam ayat Al-Qur’an itu.

#Sahabat fillah
Dalam peristiwa itu ada perbedaan antara feedback yang diberikan oleh Sayidina Umar dan feedback yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Sayidina Umar menggunakan hujah dari Al-Qur’an untuk mengkritik kesalahan pemuda itu. Sedangkan Rasulullah SAW menggunakan Al-Qur’an untuk membantu pemuda itu menyelesaikan masalahnya.

#Sahabat fillah
Lalu, pilih mana, menjadi Umar atau menjadi Rasulullah??…

Hadaanallahu waiyyakum ajma’in
Wallahu’alam bishshawab …

Semoga bermanfaat …^_^
Salam santun ukhuwah fillah …

  • Rita Al-Khansa *

Sumber:
#Tika Mindari
#Dakwatuna.com
#Rita Al-Khansa (Editor)

Iklan

Silahkan komentar disini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s